PENGELOLAAN KONFLIK DAN PENGELOLAAN PERUBAHAN
PENGELOLAAN KONFLIK DAN PENGELOLAAN PERUBAHAN
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia pada
hakekatnya adalah mahkluk sosial, yang dalam kehidupan sehari- hari tidak bisa
lepas dari kegiatan interaksi dan komunikasi. Komunikasi merupakan bagian
integral kehidupan manusia, apapun statusnya di masyarakat. Sebagai mahkluk
sosial, kegiatan sehari- hari selalu berhubungan dengan orang lain dalam upaya
pemenuhan kebutuhan hidup.
Komunikasi adalah alat yang digunakan sebagai tukar menukar informasi yang
mempunyai tujuan tertentu. Komunikasi merupakan kebutuhan fundamental bagi
setiap manusia. Dalam komunikasi tersebut terdapat hal – hal yang harus
diperhatikan agar tercapai komunikasi yang baik. Banyak komunikator dan
komunikan yang tidak memperhatikan bagaimana dan hal – hal apa yang harus
dilakukan dalam berkomunikasi agar tercapainya tujuan tertentu yang dicapai.
Maka dari itu, makalah ini akan membahas tentang komunikasi dan kaidah – kaidah
pelaksanaan komunikasi dalam kehidupan masyarakat khususnya dalam lingkup
kebidanan.
B.
Tujuan
Adapun
tujuan yang dapat diperoleh dari makalah ini antara lain: Memahami pengertian
komunikasi, jenis – jenis komunikasi, metode komunikasi, teori-teori perubahan
dan bidan sebagai change of agent.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Komunikasi
Pengertian Komunikasi menurut para pakar adalah
sebagai berikut:
1.
William Albig: “Communication is the
prosses of transmitting meoninfull symbols between individuals.” Yang
artinya: Komunikasi adalah proses pengoperan lambang-lambang yang berarti
antara individu.
2.
Taylor: Komunikasi adalah proses pertukaran informasi atau proses yang
menimbulkan dan meneruskan makna atau arti, berarti dalam komunikasi terjadi
penambahan pengertian antara pemberi informasi dengan penerima informasi
sehingga mendapatkan pengetahuan.
3.
Burgess: komunikasi adalah proses penyampaian infromasi, makna dan pemahaman
dari pengirim pesan kepada penerima pesan.
4.
Yuwono: komunikasi adalah kegiatan mengajukan pengertian yang diinginkan dari
pengirim konfirmasi kepada penerima informasi dan menimbulkan tingkah laku yang
diinginkan penerima informasi.
Dari
ketiga pengertian di atas, intinya adalah komunikasi merupakan seni penyampaian
informasi (pesan, ide, sikap, atau gagasan) dari komunikator atau penyampai
berita untuk mengubah serta membentuk perilaku komunikan atau penerima berita (Pola,
sikap, pandangan, dan pemahamannya), ke pola dan pemahaman yang dikehendaki
bersama.

B.
Jenis Komunikasi
Ada
dua jenis komunikasi, yaitu komunikasi verbal dan nonverbal
1.
Komunikasi verbal
Komunikasi
verbal adalah komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai alat sehingga
komunikasi verbal ini sama artinya dengan komunikasi kebahasaan. Komunikasi
kebahasaan dapat dijalin secara lisan dan tulisan. Komunikasi kebahasaan ini
lazim digunakan dalam kegiatan sehari-hari, termasuk dalam pelayanan kebidanan.
Penggunaan
komunikasi kebahasaan biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Simbol yang
digunakan sebagai alat adalah kata yang digunakan untuk mengekspreskan ide atau
perasaan, membangkitkan respon emosional, atau menguraikan objek observasi dan
ingatan. Sering juga komunikasi kebahasaan digunakan untuk menyampaikan arti
yang tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi kebahasaan
yang dijalin secara lisan, dengan cara tatap muka memungkinkan tiap individu
untuk berhubungan secara langsung.
Misalnya: Komunikasi kebahasaan yang digunakan untuk
mengungkapkan perasaan yang tersembunyi “sudah gaharu cendana pula”, makna yang
tersembunyi dalam kalimat tersebut adalah “sudah tahu bertanya pula.”
Jenis
komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan kebidanan di rumah sakit
adalah informasi verbal, terutama dalam percakapan tatap muka.
2.
Komunikasi nonverbal
Komunikasi
nonverbal adalah komunikasi yang tidak menggunakan bahasa lisan maupun tulisan,
tetapi menggunakan bahasa kial, bahasa gambar, dan bahasa sikap. Proses
pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata. Komunikasi jenis ini merupakan
cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain,
terutama pada penyandang tunarungu atau tunawicara.
Komunikasi
nonverbal memindahkan pesan tanpa menggunakan kata-kata. Bidan perlu menyadari
pesan verbal dan nonverbal yang disampaikan klien mulai dari saat pengkajian
sampai evaluasi.
Bahasa
kial adalah bahasa yang menggunakan gerak tangan atau tubuh sebagai isyarat
atau lukisan suatu perbuatan, gerakan tersebut mempunyai arti pesan dlaam
konteks komunikasi. Misalnya, ketika bidan memimpin persalinan, terdengar suara
gaduh dari keluarga yang menunggu di luar kamar bersalin, kemudian bidan
membuka pintu memandang orang tersebut dengan menggelengkan kepala dan menempelkan
jari telunjuk pada bibir. Makna atau pesan yang ingin disampaikan bidan adalah
agar penunggu jangan gaduh.
Bahasa
gambar adalah bahasa yang mengekspresikan pesan dalam komunikasi dengan bentuk
gambar. Bahasa gambar ini sering digunakan dalam bentuk rambu lalu lintas.
Penyampaian pesan peraturan lalu lintas juga digunakan dalam pesan kesehatan.
Misalnya, pesan kesehatan, tidak merokok karena dapat mengganggu kesehatan.
Pesan tidak boleh merokok diekspresikan dalam gambar. Rokok yang menyala
kemudian diberi tanda silang.
Bahasa
sikap adalah bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau
mengekspresikan pikiran dan perasaan atau pendirian. Misalnya, bungkam, dingin,
tak acuh. Dalam proses komunikasi antara komunikator dengan komunikan—bila
terjadi suatu kemacetan dalam interaksi, komunikan diam, tanpa ekspresi wajah
ataupun tidak ada ungkapan bahasa kial—menunjukkan terjadinya respons penolakan
dari pihak komunikan terhadap informasi atau pesan yang disampaikan
komunikator.
Bahasa
sikap yang menggambarkan sikap dingin, diekspresikan dengan pandangan mata
kosong, tanpa adanya reaksi kial, tanpa peduli terdahap lingkungan sekitarnya,
kondisi apatis. Bahasa sikap yang menunjukkan sikap dingin ini bisa terjadi
pada klien yang mengalami kecemasan kompleks.
C. Metode Komunikasi
Ada
tiga metode dalam komunikasi, yaitu informasi komunikasi, komunikasi persuasif,
dan komunikasi instruktif.
a.
Informasi Komunikasi adalah metode
yang dipakai untuk menyampaikan informasi secara umum. Dengan cara memberikan
penerangan, keterangan, pemberitahuan tentang sesuatu yang keseluruhan maknanya
menunjang amanat atau isi berita. Sifat informasi komunikasi adalah mencapai
jumlah sasaran yang cukup besar. Kelemahannya adalah isi pesan tidak tajam dan
kurang mengikat komunikan.
b. Komunikasi persuasif adalah metode komunikasi
yang bersifat membujuk secara halus agar sasaran menjadi yakin. Biasanya dalam
bentuk ajakan dengan cara memberi alasan dan prospek baik yang meyakinkan.
Misalnya, memberi motivasi untuk mengikuti program keluarga berencana dengan
penggunaan alat kontrasepsi. Asumsi yang berkembang adalah keluarga berencana
dapat mewujudkan keluarga kecil sejahtera dan bahagia. Keuntungan komunikasi
persuasiif adalah menyadarkan komunikan untuk mengadakan penilaian terhadap
informasi yang disampaikan sehingga dapat menentukan sikap untuk mengikuti
ajakan komunikator. Kelemahannya adalah membutuhkan jangka waktu yang relatif
lama karena perlu kegiatan tambahan berupa pembinaan secara terus-menerus.
c. komunikasi instruktif adalah metode komunikasi
berupa arahan atau perintah untuk melakukan suatu tugas atau melaksanakan
pekerjaan. Misalnya, minum obat satu tablet tiga kali sehari yang diperintahkan
dokter terhadap pasiennya. Keuntungan komunikasi instruktif adalah lebih
menunjukkan keberhasilan sesuai dengan tujuan dalam jangka waktu yang lebih
cepat. Kelemahannya adalah bersifat otoriter.
D. Teori- Teori Perubahan
1. Teori
kurt lewin
Lewin mengungkapkan bahwa perubahan dapat dibedakan menjadi 3 tahapan :
a. Pencairan (unfreezing) yaitu, Motifasi yang kuat untuk beranjak dari keadaan semula dan berubahnya keseimbangan yang ada.
b. Bergerak (moving) yaitu, Bergerak menuju keadaan yang baru atau tidak / tahap perkembangan baru, karena memiliki cukup informasi, serta sikap dan kemampuan untuk berubah, memahami masalah yang dipahami dan mengetahui langkah-langkah penyalasaian yang harus dilakukan, melakukan langkah nyata untuk berubah dalam mencapai tingkat atau tahap baru.
c. Pembekuan (refresing) yaitu, Telah mencapai tingkat atau tahap baru, mencapai keseimbangan baru. Tingkat baru yang dicapai harus dijaga untuk tidak mengalami kemunduran atau atau bergerak kembali pada tingkat atau tahap perkembangan semula.
Lewin mengungkapkan bahwa perubahan dapat dibedakan menjadi 3 tahapan :
a. Pencairan (unfreezing) yaitu, Motifasi yang kuat untuk beranjak dari keadaan semula dan berubahnya keseimbangan yang ada.
b. Bergerak (moving) yaitu, Bergerak menuju keadaan yang baru atau tidak / tahap perkembangan baru, karena memiliki cukup informasi, serta sikap dan kemampuan untuk berubah, memahami masalah yang dipahami dan mengetahui langkah-langkah penyalasaian yang harus dilakukan, melakukan langkah nyata untuk berubah dalam mencapai tingkat atau tahap baru.
c. Pembekuan (refresing) yaitu, Telah mencapai tingkat atau tahap baru, mencapai keseimbangan baru. Tingkat baru yang dicapai harus dijaga untuk tidak mengalami kemunduran atau atau bergerak kembali pada tingkat atau tahap perkembangan semula.
2.
Teori roger
Roger menjelaskan 5 tahap dalam perubahan, yaitu : Kesadaran, Keinginan, Evaluasi, Mencoba, Penerimaan. Roger percaya proses penerimaan terhadap perubahan lebihh komplek dari pada 3 tahap yang dijabarka lawin. Terutama dalam setiap individu yang terlibat dalam proses perubahan dapat menerima atau menolaknya. Meskipun perubahan dapat diterima, mungkin saja suatu saat akan ditolak setelah perubahan tersebut dirasakan sebagai hal yang menghambat keberadaanya.
Roger menjelaskan 5 tahap dalam perubahan, yaitu : Kesadaran, Keinginan, Evaluasi, Mencoba, Penerimaan. Roger percaya proses penerimaan terhadap perubahan lebihh komplek dari pada 3 tahap yang dijabarka lawin. Terutama dalam setiap individu yang terlibat dalam proses perubahan dapat menerima atau menolaknya. Meskipun perubahan dapat diterima, mungkin saja suatu saat akan ditolak setelah perubahan tersebut dirasakan sebagai hal yang menghambat keberadaanya.
3.
Teori lipitts
Kunci mengalami perubahan menurut lipitts adalah mengidentifikasi tujuh tahap dalam proses perubahan:
a. Mementukan masalah
b. Mengkaji motifasi dan kapasitas perubahan
c. Mengkaji motifasi change agent dan sarana yang tersedia
d. Mengseleksi tujuan perubahan
e. Memilih peran yang sesuai untuk dilaksanakan oleh agen pembaharu
f. Mempertahankan perubahan yang telah dimulai
g. Mengakhiri bantuan
Kunci mengalami perubahan menurut lipitts adalah mengidentifikasi tujuh tahap dalam proses perubahan:
a. Mementukan masalah
b. Mengkaji motifasi dan kapasitas perubahan
c. Mengkaji motifasi change agent dan sarana yang tersedia
d. Mengseleksi tujuan perubahan
e. Memilih peran yang sesuai untuk dilaksanakan oleh agen pembaharu
f. Mempertahankan perubahan yang telah dimulai
g. Mengakhiri bantuan
E.
Bidan sebagai change of agent
Bidan merupakan aset
dan potensi bangsa sebagai agen pembaharuan ( Agent Of Change ) karena para
Bidan memainkan peran penting dalam mengelola komunitas sosial sebagai sumber
pengetahuan dan rujukan tentang persalinan normal, kesehatan reproduksi
perempuan dan kesehatan anak serta permasalahan lain yang terkait langsung
maupun tidak langsung dengan kesehatan. Dengan kesabaran dan belajar dari
pengalaman para bidan perlahan-lahan mengajak masyarakat mengubah perilaku
menuju gaya hidup lebih rasional. Cara mereka bermacam-macam. Bimoarti mulai
lebih dari dua tahun terakhir mengubah pendekatan. Belajar dari dukun
melahirkan, dia juga memberi layanan lengkap hingga pascamelahirkan. Pendekatan
juga dilakukan kepada perangkat desa dan masyarakat untuk membentuk Forum
Kesehatan Desa. Para bidan juga mencari cara untuk menarik minat ibu-ibu
membawa anak balita mereka ke posyandu. Salah satunya dengan memberi pelatihan
pemenuhan kebutuhan praktis, seperti cara memasak makanan untuk anak balita.
Atau menyediakan air bersih bagi rumah tangga di desa” Dalam konteks pencapaian
Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), bidan desa sangat berperan dalam mencapai
tujuan keempat MDGs, yaitu menurunkan angka kematian bayi, dan tujuan kelima,
yaitu memperbaiki kesehatan ibu hamil.
Bidan
tidak hanya sebatas membantu persalinan ibu hamil. Lebih dari itu, dia dapat
berlaku sebagai garda depan peningkatan kesejahteraan perempuan dan bayi serta
agen perubahan (agent of change) bagi pembangunan kesehatan nasional.Bidan sebagai agen perubahan yaitu untuk meningkatkan pembangunan kesehatan nasional, terutama dalam hal kesejahteraan ibu dan anak serta mengajak masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Salah satu tugas penting yang musti dilakukan bidan untuk menyukseskan pembangunan kesehatan nasional adalah penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia. Diketahui, tingginya AKI dan AKB masih menjadi permasalahan penting di Indonesia.
F. Contoh Konflik dalam Kebidanan
1.
Konflik mengenai Issu Etik Moral
Pada tanggal 2 November 2010 jam 07.00 WIB, Ny.X
datang ke BPS bidan “S” dengan keluhan perut kencang, mules, serta mengeluarkan
darah segar pada jalan lahir. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata Ny.X telah
mengalami pembukaan 7 dan bagian terendah janin adalah letak kepala. Bidan
mendiagnosa bahwa Ny.X mengalami plasenta previa. Segera bidan melakukan
pertolongan pada ibu dan bayinya. Lalu bidan mneyarankan untuk merujuk Ny.X ke
rumah sakit, dan keluarganyapun setuju. Diperjalanan, Ny.X mengalami pembukaan
lengkap sehingga bidan harus melakukan pertolongan persalinan. Beberapa saat
kemudian, bayi Ny.X lahir, akan tetapi NY.X mengalami HPP. Bidan sudah
melakukan pertolongan, akan tetapi Ny.X tetap tidak terselamatkan. Keluarga
Ny.X menganggap bidan “S” tidak mempunyai keahlian dalam kebidanan. Mendengar
hal ini, warga disekitar BPS bidan “S”
menuntut agar bidan “S” dipindahkan ke lingkungan lain. Selain itu,
keluarga Ny.X juga menuntut bidan “S” ke pengadilan. Pada kasus ini kesalahan
tidak sepenuhnya tidak sepenuhnya terletak pada bidan “S”, karena bidan “S”
telah melakukan pertolongan semaksimal mungkin , karena keluarga Ny.X telat
membawanya ke BPS.
2. Konflik mengenai Dilema Moral
Seorang ibu primipara masuk kamar bersalin dalam keadaan inpartu. Sewaktu
dilakukan anamnesa dia menyatakan tidak mau di episiotomi. Ternyata selama kala
II, kemajuan kala II berlangsung lambat, perineum masih tebal dan kaku. Keadaan
ini dijelaskan kepada ibu oleh bidan, tetapi ibu tetap pada pendiriannya yaitu
tidak mau di episiotomi. Bidan berharap bayinya tetap selamat. Namun, bidan
tetap melakukan episiotomi tanpa persetujuan pasien, karena keadaan sudah
sangat mendesak.
Penyelesaian kinflik Issu dan Dilema Moral
Para filsuf telah mencoba mengembangkan lima pendekatan berbeda dalam
hubungan dengan penyelesaian issu-issu moral.
1.
Pendekatan Utilitarian
2.
Pendekatan Hak dan Kehendak Bebas
3.
Pendekatan Keadilan
4.
Pendekatan Kepentingan Bersama
5.
Pendekatan Kebaikan dan Kebijakan
Kelima pendekatan di atas menyarankan bahwa pada saat
kita dihadapkan dengan fakta yang diidentifikasi menjadi moral, kita harus
menanyakan lima hal dalam diri sebelum mencoba untuk memecahkan masalah itu. Kemampuan
mengidentifikasi hal-hal penting, kemudian mengkritisinya. Kita harus tetap
membuka mata dan telinga, hati dan
fikiran terhadap semua hal yang terajdi disekeliling kita, agar tetap peka
dengan kenyataan dan dapat memberikan kontribusi yang positif baik bagi pribadi
maupun masyarakat.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
pembahasan makalah diatas dapat diambil beberapa
kesimpulan, diantaranya adalah:
1. Komunikasi
adalah perhubungan atau proses pemindahan dan pengoperan arti, nilai, pesan
melalui media atau lambang-lambang apakah itu bahasa lisan, tulisan ataupun
isyarat.
2. Komunikasi
adalah seni penyampaian informasi (peran, massage, ide, sikap, atau gagasan)
dari komunikator untuk merubah serta permohonan yang dikehendaki komunikator.
Jadi, proses penyampaian informasi berdaya guna bagi komunikator maupun
komunikan.
3. Dalam
komunikasi terdapat jenis-jenis komunikasi, metode komunikasi,
B. Saran
Sebaiknya
komunikasi dipergunakan dengan cara yang baik dan benar agar apa yang ingin
disampaikan komunikator dan komunikan terima sejalan dan bisa tercapai dengan
benar, terutama dalam menjalani pelayanan kebidanan.
DAFTAR PUSTAKA
Dra.
Christina Lia Uripni, Sst, Untung Sujianto, S.Kp dan Dra. Tatik Indrawati, Sst.
2003. Komunikasi Kebidanan. Jakarta:
EGC.
Wiryanto. 2004. Pengantar
Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grasindo.
Komentar
Posting Komentar