HUBUNGAN ETIKA DENGAN TATA KRAMA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tata krama atau adat sopan santun atau yang biasa disebut etiket telah menjadi bahan
dalam hidup kita, ia telah menjadi persyaratan dalam hidup sehari-hari, malahan
menjadi meningkat dan sangat berperan untuk memudahkan manusia diterima di
masyarakatnya. Pada waktu anda masih kanak-kanak, secara tidak sadar orang tua
anda telah melatih anda agar menerima pemberian orang dengan tangan kanan, lalu
mengucapkan terima kasih.
Tata krama
adalah kebiasaan. Kebiasaan ini merupakan
tata cara yang lahir dalam hubungan antar manusia. Kebiasaan ini muncul karena
adanya aksi dan reaksi dalam pergaulan. Sebagai contoh, kalau orang indonesia
setuju dengan apa yang dikemukakan ia akan mengangguk- anggukan kepalanya.
Sebaliknya di negeri lain ada yang menyatakan setuju dengan
menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pentingnya Tata Krama diperlukan
dalam kehidupan sehari-hari contonya orang
tua juga melatih kita cara makan, minum, menyapa, memberi hormat, berbicara,
berpakaian, dan bersikap jika ada tamu yang datang kerumah. Lama kelamaan
prilaku kita terbentuk menjadi suatu kebiasaan, tanpa memikirkan mengapa harus
bertindak seperti yang demikian.
Tata
krama yang semula berlaku dalam
lingkungan terbatas, lama kelamaan dapat merambat kelingkungan masyarakat yang
lebih luas. Banyak manusia yang memiliki jenis manusia tipe durian, yaitu orang
yang penampilannya tidak menarik, kasar, dan tidak mengundang simpati, namun
berhati emas. Hatinya diliputi sifat-sifat terpuji, seperti rendah hati, suka
memaafkan, suka menolong, dan menghargai orang, serta tidak menyakiti orang
lain. Manusia tipe kedong-dong akan dijauhi orang setelah merasakan betapa asam
sifat-sifatnya.
Disinilah letak betapa pentingnya
tata krama. Orang yang mengenal dan
menerapkannya akan melahirkan penampilan yang menarik seperti kulit kedongdong,
dan perhatian itu tepancar dari hati seperti isi durian.
Berdasarkan latar belakang diatas, kelompok 5
ingin mengangkat judul “Hubungan Etika
Dengan Tata Krama”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, adapun
rumusan masalah nya adalah apakah hubungan etika dengan tata krama.
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan makalah ini adalah menjelasan hubungan
etika dengan tata krama.
BAB 2
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Etika
Etika (Yunani
Kuno:
"ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah
sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat
yang mempelajari nilai
atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral.
Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk,
dan tanggung jawab]St. John of Damascus
(abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical
philosophy).
Etika
dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat
spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena
pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan
etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Secara
metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan
sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah
etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah
laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga
tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika
melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.
B.
Pengertian Tata Krama
Tata krama
terdiri dari kata “tata” dan “krama”. Tata berarti aturan, adat, norma,
peraturan. Krama berarti sopan santun, prilaku santun, tingkah laku yang
santun, bahasa yang santun, kelakuan yang santun, tindakan yang santun.
Jadi Tata Krama dalam
pergaulan merupakan aturan kehidupan yang mengalir hubungan antar manusia. Tata
krama pergaulan berkaitan erat dengan etiket atau etika.
Menurut para ahli tata karma/ etika
tidak lain adalah prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara
sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk, seperti yang
dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini :
Drs.O.PSimorangkir Tata karma atau
etika sebagai pandangan manusia dalam berpengaruh dalam berpakaian menurut
ukuran dan nilai yang baik . Menurut Drs. Sidi Gajalba Dalam sisitematika
filsafat , tata krama adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia
dipandang dari segi baik maupun buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
Drs.H.BurhanudinSalam Tata karma
atau etika adalah filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma yang prilaku
manusia dalam hidupnya.
Bertens (1999 : 6)
Tata karma etika memiliki 3 arti yaitu
a. Etika dalam arti nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya.
b. Etika dalam arti kumplan asas atau nilai moral dimaksukan sebagai kode etik.
c. Etiks dalam arti ilmu tentang yang baik atau buruk.
Black(1990:11) Etika ilmu yang mempunyai cara manusia memperlakukan
sesamanya dan apa hidup yang baik.
C.
Manfaat Tata Krama
Adapun manfaat tata krama atau etika yaitu:
1.Ada membuat seseorang mengambil keputusan dalam suatu
masalah dengan bijak.
2.Memberi pengenalan bagaimana menjalani hidup melalui rangkaian tindak sehari-
2.Memberi pengenalan bagaimana menjalani hidup melalui rangkaian tindak sehari-
hari.
3.Membuat anda menjadi disegani, dihormati.
4.Memudahkan hubungan baik dengan orang lain.
5.Memberi keyakinan pada diri sendiri dalam setiap situasi.
6.Menjadikan anda dapat memelihara suasana yang baik dalam berbagai lingkungan, baik itu linkungan keluarga, pergaulan, dan dimana anda bekerja.
3.Membuat anda menjadi disegani, dihormati.
4.Memudahkan hubungan baik dengan orang lain.
5.Memberi keyakinan pada diri sendiri dalam setiap situasi.
6.Menjadikan anda dapat memelihara suasana yang baik dalam berbagai lingkungan, baik itu linkungan keluarga, pergaulan, dan dimana anda bekerja.
D.
Tata Krama Dalam Pergaulan
Tata Krama dalam pergaulan merupakan
aturan kehidupan yang mengalir hubungan antar manusia. Tata krama pergaulan
berkaitan erat dengan etiket atau etika. Kata etiket berasal dari Perancis
yaitu Etiquette yang berarti tata cara bergaul yang baik, dan etika berasal
dari bahasa Latin Ehtic merupakan pedoman cara hidup yang benar dilihat dari
sudut budaya, susila, dan, agama. Dalam setiap pergaulan perlu adanya
komunikasi, karena hal ini akan menghasilkan penyampaian yang baik, seperti
bagaiamana berbicara dengan orang yang lebih tua, berkenalan dengan sopan.
Sopan santun atau tata krama merupakan kesadaran yang sensitive atau perasaan
orang lain. Jika kita memiliki kesadaran tersebut, berarti kita memiliki sopan
santun yang baik. Dalam tata krama juga memilikki dasar- dasar tata krama/
etika yaitu:
1.Bersikap sopan dan ramah kepada
siapa saja,
2.Memberi perhatian kepada orang lain.
3.Berusaha selalu menjaga perasaan orangn lain.
4.Bersikap ingin membantu.
5.Dapat menguasai diri, mengendalikan emosi dalam situasi apappun.
6.Memilki rasa toleransi yang tinggi.
2.Memberi perhatian kepada orang lain.
3.Berusaha selalu menjaga perasaan orangn lain.
4.Bersikap ingin membantu.
5.Dapat menguasai diri, mengendalikan emosi dalam situasi apappun.
6.Memilki rasa toleransi yang tinggi.
Dari dasar-dasar tata krama dalam
pergaulan juga memiliki ciri seorang individu yang memiliki tata krama yang
baik, antara lain :
1.Memiliki rasa percaya diri ketika mengadapi masyarakat
dari tingkat manapun.
2.Tingkah laku dan ucapannya selalu mempertimbangkan serta mencerminkan
2.Tingkah laku dan ucapannya selalu mempertimbangkan serta mencerminkan
prihatin kepada
orang lain.
3.Bersikap sopan, ramah dan selalu menunjukan sikap
mempertimbangkan serta
mencerminkan
prihatin kepada orang lain.
4.Bisa menguasai diri sendiri dan selalu berusaha tidak
menyinggung, mengganggu.
5.Selalu berusaha tidak mengecewakan, membuat gusar apalagi membuat orang marah, walaupun diri sendiri dalam keadaan sedih, kesal, lelah ataupun jenuh.
5.Selalu berusaha tidak mengecewakan, membuat gusar apalagi membuat orang marah, walaupun diri sendiri dalam keadaan sedih, kesal, lelah ataupun jenuh.
Dalam menjalalani pergaulan yang
penuh denagn tata krama perlu adanya kesadaran dalam diri. Akakn tetapi, disisi
lain , peraturan di dunia ini adalah kesadaran. Anak usia 1,5 tahun mulai bias
mengerti, orang lain mempunyai perasaan seperti halnya dirinya. Inilah sat yang
tepat unutk memulai mendidik anak mengenai sopan satun atau dengan kata lain
mengajarkan padanya mengenai perasaan orang lain. Untuk itu kita harus
mendidiknya. Ada 5 hal yang sebaiknyadiajarkan pada usia dini daalam bertata
krma, yakni :
1.Tolong
Kata ini sudah mulai bias diajarkan
sejak anak berusia 1,5 tahun. Biasakan untuk “mengharuskannya” mengatakan
“Tolong” jika menginginkan sesuatu. Jangna lupa beri anak contoh. Stiap kali
minta bnatuan kepada siapa pun,jangan pernah lupa mengawalinya dengan kata
“Tolong”.
2.Terima Kasih
Anak usia 18 bulan mungkin sudah
dapat menngucapkan kata-kata ( meski masih cadel) dan tidak atau belum dapat
menangkap arti yang sesungguhnya. Baru di saat berumur 22,5 tahun, anak dapat
menghubungkan antara kata dan konsep arti9. Jika pada usia itu ia belum
memiliki kebiasaan baik, didik dan biasakank unutk mengucapkan : Terima Kasih”
jika menerima sesuatu dari orang lain.
3.Berbagi
Anak usia 2 tahunan mulai mengerti
konsep atau arti berbagi, menunggu, giliran, walaupun mungkin tidak senang
melakukannya. Dorongan anak untuk mau berbagi dengan teman-temannya saat mereka
sedang bermain. Misalnya dengan memberikan mainan yang sama dan menawarkan satu
kepada temannya.
4.Maaf
Apa yang bias diharapkan dari balita
usia 1,5 tahun yang pengertiannya masih sangat mendasar? Dia pasti benar-benar
sulit unutk mengerti, kenapa dia harus minta maaf. Tapi setelah dia berumur 2,5
– 3 tahun, dia akan mengerti konsep tersebut meski masih masih sangat sempit.
Jika ia merebut main temannya, misalnya, beri pengertian padamya sambil
bermain, bahwa tingkah lakunya salah dan harus minta maaf.
5. Di Meja Makan
Anak umur 3 tahun dapat makan denagn
sendok dan garpu dan duduk manis di kursi di depan meja makan selama 15 – 20
menit. Ia juga sudah mampu membersihkan mulutnya dengan serbet/ tisu jika ad
makanan menempel/ tercecer di mulutnya. Untuk melatihnys, selama masa balita,
beri anak makanan dengan porsi kecil, jangan dengan piring ceper dan semangati
anak unutk menggunakan alat – alalt makank yang diperlukan. Didik anak untuk
tidak memainkan atau membuang makanan yang kebetulan tidak di sukainya atau
karena kebanyakan, katakan padanya, “Kita tidak boleh membuang-buang makanan”.
Ajarkan pula jika ditawari makanan, ia harus menjawab, “Ya, terima kasih” atau
“ Tidak, sudah cukup. Terima kasih”.(Tabloid Nova).
E. Pentingnya
Tata krama dalam bergaul
a. Membuat
individu mengambil keputusan dalam suatu masalah dengan bijak
b. Memberi
pengenalan bagaimana menjalani hidup melalui rangkaian tindakan sehari- hari
c. Membuat
seseorang disegani, dihormati dan disenangi orang lain
d. Mendapat kemudahan
dalam hubungan baik dengan orang (better
human relation)
e. Memberi
keyakinan pada diri sendiri dalam setiap situasi
f. Dapat
memelihara suasana yang baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, dan antara
teman
g.
Menciptakan suatu kedamaian dalam kehidupan sosial
h. Menumbuhkan
kesadaran seseorang akan pentingnya bertata krama
i.
Menambah ilmu pengetahuan baik secara lisan maupun tertulis
j.
Menghindari terjadinya pertentangan
F. Contoh Tata
Krama di Kehidupan Sehari-hari
1.
Tata Krama Pergaulan Sesama Teman
Hidup tanpa teman sungguh tidak terbayangkan. Hidup tanpa teman berarti
hidup sendiri, sunyi, sepi, tidak ada tempat bersuka cita, tidak ada tempat
mengeluh atau minta pertolongan manakala kesulitan. Oleh karena itu perlu
dijaga hubungan baik dengan teman-teman tetapi tetap terpelihara. Untuk itu,
perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:
Bantulah teman yang minta pertolongan dengan kemampuan kita. Jika karena
sesuatu hal kita tidak dapat memenuhi permintaan itu, sampaikanlah hal itu
secara halus disertai alasan-alasan yang masuk akal, Hargailah pendapat teman.
Jika kita tidak sependapat, kemukakanlah pendapat kita sendiri secara
baik-baik, Hindarilah penggunaan kata-kata buruk, jelek, tidak pantas, dan
sebagainya dalam mengomentari pekerjaan atau pakaian teman, karena masalah
penilaian baik atau buruk dalam hal ini umumnya bersifat subjektif. Baik
menurut kita, belum tentu baik buat orang lain. Ingat bahwa tidak seorangpun
yang rela dicela, Sering-seringlah menggunakan kata-kata pujian kepada
teman-teman setelah mereka melakukan sesuatu dengan baik, Ucapkanlah terima
kasih yang tulus kepada teman yang telah berbuat baik kepada kita betapapun
kecilnya kebaikan itu, Jauhilah kebiasaan berguncing karena pergunjingan
merupakan sumber pertikaian atau perpecahan, Janganlah memendam rasa kecewa
berlama-lama, karena hal ini bisa meledak menjadi kemarahan yang berakibat
pertengkaran. Curahkanlah perasaan itu segera secara terbuka dan baik-baik.
Ingat kekecewaan belum tentu beralasan, mungkin kita sendiri yang salah mengerti,
Terimalah setiap teguran dengan hati yang lapang. Jika memeang kita bersalah,
akuilah secara jantan dan mintalah maaf; jika tidak, jelaskanlah baik-baik
duduk persoalannya. Hindarkanlah sikap mau menang sendiri, mau benar sendiri.
Ingatlah peribahasa ”Orang pandai berbicara dengan mulut, orang bodoh berbicara
dengan tinju”, Biasakanlah menggunakan kata-kata manis, seperti ” Selamat Pagi”
dan sebagainya, ”Sampai Jumpa”, ”Silakan....!”, ”Maaf....!, ”Tolong...!, dan
lain-lain, Kembalikanlah segera barang/uang pinjaman; jangan dibiarkan si
pemilik mengambilnya sendiri (dengan kecewa).
Dalam
bergaul kita patut mematuhi tata krama dalam bergaul agar kita senantiasa
membina hubungan baik dengan teman sebaya. Contoh tata krama dengan teman
sebaya yaitu Krama Dalam
bergaul.
a. Menghindari
Penghinaan
b. Menghindari Ikut
Campur Urusan Pribadi
c.
Menghindari Memotong Pembicaraan
d. Menghindari Membanding-bandingkan
e. Menhindari membela musuhnya dan
mencaci kawannya
f. Menghindari Merusak Kebahagiaan
g. Menghindari Mengungkit masa
Lalunya
h. Berhati-hati dengan perasaan
marah
i. Menghindari
Menertawakan Orang lain.
2.
Tata Krama Pergaulan Dengan Guru
Dalam tata krama masyarakat Jawa dikenal ungkapan ”Guru, ratu, wong atau karo”.
Ini mengandung arti bahwa guru, menurut urutan kata-katanya, adalah orang yang
pertama-tama harus dihormat, kemudian berturut-turut raja dan orang tua. Agaknya
ini tidaklah berlebihan, karena gurulah yang memberikan pengetahuan,
kepandaian, ketrampilan sebagai bekal hidup. Setiap guru selalu dengan ikhlas
berusaha agar anak didiknya menjadi orang yang berguna bagi dirinya sendiri
maupun bagi orang lain. Oleh karena itu, setiap mahasiswa hendaknya memiliki
rasa hormat kepada guru. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pergaulan dengan
guru:Tunjukkanlah sikap hormat dan gunakanlah bahasa yang halus dan sopan, jika
sedang berhadapan / berbicara dengan guru. Jika perkuliahan sedang berlangsung,
curahkanlah seluruh perhatian kepada guru, janganlah berbuat gaduh atau
bercakap-cakap karena hal itu di samping mengganggu ketenangan, juga sangat
menyinggung perasaan guru. Pertanyaan atau tanggapan mengenai materi perkuliahan
hendaknya dikemukakan secara sopan, jangan sampai timbul kesan mahasiswa lebih
tahu dari guru atau mengajarinya. Usahakanlah untuk tidak keluar ruangan
belajar (misalnya ke kamar kecil). Kalaupun sangat terpaksa, minta izin
terlebih dahulu pada waktu guru tidakberbicara. Saling berbisik terus menerus
sambil masing-masing memandang pada guru pada waktu guru sedang berbicara
(misalnya menyajikan kuliah) juga dipandang kurang sopan dan guru bisa
tersinggung karenanya. Hendaklah sudah berada di dalam ruangan sebelum guru
datang masuk. Jika terlambat, mintalah maaf sambil memberikan alasan yang
tepat. Kerjakanlah setiap tugas dari guru dengan sebaik-baiknya.
3.
Tata Krama Di Lingkungan Keluarga
Kita, manusia, diciptakan Tuhan melalui kedua orang tua kita, yaitu ayah dan
bunda. Oleh karena itu jika kita merasa senang atau bahagia dilahirkan ke
dunia, maka di samping bersyukur kepada Tuhan, kita pun berkewajiban untuk
berterima kasih kepada kedua orang tua kita. Perlu disadari secara mendalam
bahwa orang tua bukan saja melahirkan kita, melainkan juga dengan kasih sayang
telah membesarkan dan mendewasakan kita, memberikan kepada kita makanan,
pakaian, pendidikan, menjaga kesehatan, dan melindungi kita dari berbagai mara
bahaya, betapapun besarnya resiko bagi mereka. Kasih sayang dan pengorbanan itu
dicurahkan dengan segala keikhlasan demi kebahagian kita.
Oleh karena itu, wajarlah apabila kita selalu berterima kasih kepada orang tua.
Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai tanda terima kasih? Bukan balas budi
berupa materi. Orang tua sudah merasa cukup bahagia apabila anaknya melakukan
hal-hal yang dapat menjamin masa depannya sendiri dengan baik, antara lain:
1. Mentaati segala nasihat, baik orang tua
dan tidak membantahnya tanpa alasan yang masuk akal. Setiap keberatan atas
nasihat/saran orang tua dikemukakan dengan baik-baik,
Tidak melakukan hal-hal tercela, lebih-lebih yang dapat menimbulkan aib bagi keluarga,
Tidak melakukan hal-hal tercela, lebih-lebih yang dapat menimbulkan aib bagi keluarga,
2. Selalu bersikap dan berbahasa lembut
kepada orang tua, saudara-saudara dan orang lain,
3. Rajin belajar dan suka membantu orang tua
di rumah,
4. Saling mengerti, saling menghargai dan
saling menolong dengan saudara-saudara, tidak pernah bersikap mau menang
sendiri, mau kenyang sendiri, mau menang sendiri tanpa memikirkan orang lain,
5. Memelihara kebersihan di dalam rumah dan
menjaga keselamatan/keutuhan barang-barang yang ada di rumah serta tidak
meminjamkan barang apapun kepada orang lain tanpa izin orang tua atau saudara
yang memiliki barang,
6. Tidak menuntut sesuatu di luar kemampuan
orang tua,
7. Selalu terbuka, tidak pernah
menyembunyikan masalah pribadi dari orang tua, lebih-lebih yang pada akhirnya
menuntut keterlibatan keluarga,
8. Memberitahu jika hendak pergi dan tidak
berada di luar rumah berlama-lama sehingga menimbulkan kegelisahan orang tua,
9. Tidak bergaul terlalu rapat dengan
teman-teman tak sejenis dan tidak terlalu sering membawa teman-teman ke rumah
karena hal itu merepotkan orang tua, terutama ibu,
10. Jujur, suka mengaku setiap kesalahan sendiri dan tidak pernah
melemparkannya kepada orang lain,
11. Memperlakukan pembantu seperti keluarga sendiri, tidak pernah
menyakitinya agar ia betah karena ketidakbetahan membantu sangat merepotkan
ibu.
4.
Tata Krama Berpakaian
Gunakan pakaian sesuai dengan fungsinya masing-masing. Pakaian olah raga,
piyama, atau daster misalnya tidak baik digunakan untuk menerima tamu resmi di
ruang tamu keluarga, Kaus oblong dan sandal termasuk pakaian santai, seyogianya
tidak dipergunakan di tempat-tempat resmi, juga di dalam kampus, lebih-lebih di
ruang kuliah, Pakaian hendaknya tidak terlalu ketat atau terlalu pendek di
bagian bawah maupun bagian atas, Pakaian selalu rapi, bersih dan tidak kusut,
Perhiasan seperlunya, tidak berlebihan, terutama di kampus, Di tengah hari yang
terik sebaiknya tidak menggunakan pakaian berwarna hitam pekat atau merah
menyala dan dalam cuaca yang mendung atau hujan (becek) tidak dianjurkan
menggunakan pakaian berwarna putih.
5.
Tata Krama Berbicara
Berbicara dan tertawa pun sering menarik perhatian orang. Agar tidak menarik
perhatian yang negatif hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Suara hendaknya sekedar cukup terdengar oleh lawan bicara agar tidak mengganggu,
Berbicara tenang, tidak tergesa-gesa agar ludah tidak berkecipratan ke luar mulut,
Mulut tidak terlalu dekat pada muka lawan bicara agar uap mulut tidak tercium olehnya, Waktu tertawa, mulut tidak dibuka terlalu lebar sehingga tampak bagian dalam mulut, demikian pula suaranya, tidak keras-keras, Janganlah berbicara atau ketawa jika mulut penuh berisi makanan,
Berbicara tenang, tidak tergesa-gesa agar ludah tidak berkecipratan ke luar mulut,
Mulut tidak terlalu dekat pada muka lawan bicara agar uap mulut tidak tercium olehnya, Waktu tertawa, mulut tidak dibuka terlalu lebar sehingga tampak bagian dalam mulut, demikian pula suaranya, tidak keras-keras, Janganlah berbicara atau ketawa jika mulut penuh berisi makanan,
Pada
waktu berbicara, wajah dan pandangan kita hendaknya selalu terarah lurus kepada
lawan bicara. Bicara sambil berpaling ke sana ke mari dianggap tidak sopan.
Demikianpula jika lawan bicara sedang berbicara,
Palingkanlah
muka sejenak ke arah lain dan/atau tutuplah mulut dengan tangan atau sapu
tangan jika kita tiba-tiba batuk atau bersin ketika sedang berbicara, Usahakanlah
agar tidak memotong bicara, apalagi tiba-tiba menegur/menyapa atau
berbicara dengan orang lain pada waktu lawan bicara masih berbicara.
Kalaupun sangat terpaksa, mintalah izin/maaf terlebih dahulu kepada lawan
bicara, Ingat-ingatlah agar tidak memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana
atau melipat keduanya di dada atau menggendong keduanya di belakang atau
berdiri dengan sebelah kaki yang dilenturkan atau diangkat ke atas waktu
berbicara/bercakap-cakap dengan orang-orang yang dihormati.
6.
Tata Krama Makan Bersama Di Meja Makan
Pada
waktu makan bersama, lebih-lebih di meja makan, hendaknya diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
Gunakanlah sendok garpu jika makanan basah, misalnya nasi bercampur kuah dan
lain-lain, Janganlah menumpuk makanan di atas piring makanan kita, tetapi
habiskanlah makanan makanan yang telah kita ambil; penyisaan makanan dapat
menyinggung tuan rumah, Tidak mengisi mulut terlalu padat sehingga menyebabkan
sukar menelan atau makanan menyumbat di tenggorokan, Tidak berbicara pada waktu
mulut masih penuh dengan makanan, Kunyahlah makanan demikian rupa sehingga
tidak terdengar dari dalam mulut bunyi keciplak atau gigi-gigi yang beradu.
Mengunyah terlalu cepat juga dapat memberikan kesan orang yang rakus, Tempatkanlah
mulut di atas piring makanan agar makanan yang jatuh waktu diangkat tidak jatuh
ke luar piring atau mengotori pakaian kita, Usahakanlah agar selama makan tidak
bercerita tentang hal-hal yang menjijikkan sehingga membuat orang mual atau
yang terlalu lucu sehingga membuat orang tertawa terpingkal-pingkal,
Usahakanlah pula agar tidak batuk, bersin, atau mengeluarkan/membuang ingus.
Jika sangat terpaksa, tinggalkanlah dahulu meja makan ke tempat yang cukup
jauh. Juga tidak dibenarkan bersendawa, Usahakanlah agar alat-alat makan tidak
berdentingan atau gemerincing, Sehabis makan tidak dibenarkan berkumur, mencuci
tangan dengan air minum di atas piring makan, menggunakan tusuk gigi sebelum
semua orang selesai makan, Menggunakan tusuk gigi hendaknya sambil melindungi
mulut dengan tangan dan sarbet hanya digunakan untuk menyeka mulut atau melap
tangan, bukan untuk menyeka ingus, Sebaiknya sebelum makan dimulai,
masing-masing mengucapkan selamat makan dan mengajak makan pada orang yang
tidak ikut makan. Yang terakhir ini lebih banyak bersifat basa-basi, tetapi
jika tidak dilakukan, orang bisa menganggap kita tidak tahu sopan-santun.
7.
Tata Krama Berjalan
Berjalan yang sesuai dengan norma-norma sopan-santun meliputi antara lain
hal-hal sebagai berikut: Berjalan secara wajar, langkah tidak dibuat-buat
seakan-akan agar tampak gagah (laki-laki) atau menarik/menggiurkan dengan
lenggang-lenggok berlebihan (wanita), Usahakanlah agar tumit sepatu yang keras
tidak terlalu keras memukul jalan atau lantai, lebih-lebih di tempat-tempat
yang memerlukan keheningan (ruang kuliah, ruang rapat, poliklinik, dll.),
Berjalan di depan/di dekat atau melewati orang-orang yang sedang duduk atau
berdiri hendaknya tidak terlalu dekat, apalagi menyentuh mereka. Sebaiknya
katakan ”Permisi sambil membungkuk pada saat melewati mereka.
BAB 3
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pengertian Tata krama adalah kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam
lingkungan pergaulan antar manusia setempat. Tata krama terdiri atas tata dan
krama. Tata berarti adat, aturan , norma, peraturan. Krama berarti sopan
santun, kelakuan tindakan, perbuatan. Dengan demikian, tata
krama berarti adab sopan santun,
kebiasaan sopan santun, atau sopan santun. Etika berisi perbuatan yang ada
nilainya sedangkan tata krama adalah etika yang didalamnya ada unsur adat,
aturan dan norma.
Hubungan
etika dan tata krama adalah didalam setiap baik buruknya perilaku yang
digunakan dalam kehidupan sehari-hari terdapat segala bentuk aturan yang harus
ditaati agar terbentuk karakter yang menjunjung tinggi nilai kesopanan.
B.
Saran
Pentingnya Tata Krama diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Tata krama yang semula berlaku dalam lingkungan terbatas, lama
kelamaan dapat merambat kelingkungan masyarakat yang lebih luas. Banyak manusia
yang memiliki jenis manusia tipe durian, yaitu orang yang penampilannya tidak
menarik, kasar, dan tidak mengundang simpati, namun berhati emas. Hatinya
diliputi sifat-sifat terpuji, seperti rendah hati, suka memaafkan, suka
menolong, dan menghargai orang, serta tidak menyakiti orang lain. Manusia tipe
kedong-dong akan dijauhi orang setelah merasakan betapa asam sifat-sifatnya.
Disinilah letak betapa pentingnya
tata krama. Orang yang mengenal dan
menerapkannya akan melahirkan penampilan yang menarik seperti kulit kedongdong,
dan perhatian itu tepancar dari hati seperti isi durian.
DAFTAR PUSTAKA
Yoman. 2013. Dasar dan
Manfaat Tata Krama. Diakses pada 16
september 2017
Rinjaya. 2012. Pentingnya
Tata Krama dalam Bergaul. Diakses pada 16
september 2017
Wikepedia. 2015. Pengertian
Etika. Diakses pada 16 september 2017
Novita, Soviana. 2013. Pengertian
Tata Krama. Diakses pada 16 september 2017
Teguh. 2009. Tata
Krama Etika. Diakses pada 16 september 2017
Anonim. 2012. Tata Krama dalam
Bergaul. Diakses pada 16 september 2017
http://belajarpsikologi.com/pengertian-tata-krama/Pentingnya
Tata Krama dalam Bergaul
Komentar
Posting Komentar